|
Pentingnya Pelatihan Sensitivitas Jender Jakarta | badilag.net (11/3) Ditjen Badilag Kamis pagi (11/3) menerima kunjungan Rosita MacDonald, Program Officer; Governance, Law and Civil Society di The Asia Foundation (TAF), sebuah NGO yang bermarkas di San Francisco, Amerika Serikat. Rosita datang bersama perwakilan TAF Indonesia Lies Marcoes Natsir. “Saya dari The Asia Foundation sedang menyusun data tentang success story Badilag dalam memberdayakan hakim Peradilan Agama terutama dalam upaya peningkatan sensitivitas Jender yang telah diperankan oleh (Mahkamah Syar’iyah) Aceh,” ungkap Rosita, wanita berkebangsaan Australia ini mengawali pertemuan. Rosita juga bertanya seputar kurikulum yang digunakan dalam berbagai pelatihan hakim yang telah berjalan. Lebih khusus ia bertanya tentang bagaimana pengaruh pelatihan sensitivitas jender terhadap para hakim dalam menangani perkara di pengadilan.  Searah Jarum Jam: Rosita MacDonald (baju putih), Dirjen Badilag Wahyu Widiana, Dir. Binganis Zuffran Sabrie, Achmad Cholil (asisten), Dir. Binadministrasi Hidayatullah MS, dan Lies Marcoes (paling kiri).
Dirjen Badilag, Wahyu Widiana, didampingi Direktur Binganis, Zuffran Sabri, dan Direktur Pembinaan Administrasi, Hidayatullah MS, secara bergantian memberikan penjelasan seputar perkembangan terkini Peradilan Agama, khususnya mengenai keberadaan hakim dan pelatihan-pelatihan yang menyertainya. “Pelatihan sensitivitas jender yang pernah dilaksanakan bekerjasama dengan The Asia Foundation sangat bermanfaat dan memberikan pengaruh besar bagi hakim dalam menangani perkara,” ungkap Dirjen sambil menambahkan bahwa Badilag sangat menyambut baik jika The Asia Foundation mengadakan pelatihan serupa di masa yang akan datang. “Memang success story yang akan disusun ini bisa menjadi salah satu acuan untuk program pelatihan serupa di masa yang akan datang jika memungkinkan,” kata Lies Marcoes Natsir yang juga salah satu editor dan penulis dari buku Kumpulan Refernsi Standar Evaluasi Hakim Dalam Menerapkan Sensitivitas Jender di Mahkamah Syar’iyah Aceh . Rosita juga bertanya tentang pelatihan apa yang dibutuhkan hakim selain tentang sensitivitas jender. “Pelatihan tentang KDRT juga sepertinya dibutuhkan,” ungkap Dir. Binadministrasi, Hidayatullah MS. “Anggaran yang terbatas adalah salah satu kendala dalam membina hakim PA yang berjumlah sekitar 3600 hakim,” kata Dir. Binganis, Zuffran Sabrie ketika ditanya tentang tantangan terbesar dalam pembinaan hakim. Ditanya mengenai keberadaan situs badilag.net yang juga sudah ada versi Bahasa Inggris dan Arab-nya, Rosita menyampaikan apresiasinya. “It’s an impressive website,” kata Wanita alumnus postgraduate University of Sydney dalam bidang Islamic Studies dan Public Policy ini. “Perfectly clear,” katanya lagi mengomentari bahasa yang digunakan dalam badilag.net/english. (vic) |